Daily News 01 December 2025

December 01, 2025 No. 2939

ASLI

Asri Karya Lestari Tbk.

Pemegang saham pengendali PT. Asri Karya Lestari Tbk. (ASLI), Sudjatmiko, tengah menjajaki divestasi 4.345.000.000 saham atau sekitar 69,52% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan kepada PT. Wahana Konstruksi Mandiri. Rencana ini diungkap melalui keterbukaan informasi pada Jumat, 28 November 2025, dan berpotensi mengubah struktur pengendali ASLI apabila transaksi rampung. Manajemen menyampaikan bahwa penjual dan calon pembeli saat ini masih dalam proses negosiasi untuk menyusun parameter jual-beli atas saham yang dimiliki Sudjatmiko.

Pada 27 November 2025, kedua pihak telah menandatangani Term Sheet sebagai dokumen awal rencana pengambilalihan. Dokumen ini bersifat bersyarat dan pelaksanaannya masih bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat dan ketentuan, termasuk penyelesaian berbagai condition precedent yang telah disepakati. Di dalamnya juga tercantum klausul penghentian transaksi apabila ketentuan-ketentuan tersebut tidak terpenuhi, baik melalui kesepakatan tertulis maupun karena syarat tangguh gagal diselesaikan. ASLI menegaskan bahwa penandatanganan Term Sheet belum dapat dianggap sebagai perubahan pengendalian sesuai POJK No. 9/2018; status pengendali baru akan resmi berubah setelah penyelesaian pengambilalihan yang diatur dalam Conditional Shares Purchase Agreement (CSPA).

Sesuai Pasal 4 ayat (1) POJK 9/2018, Wahana Konstruksi Mandiri selaku calon pembeli telah mengumumkan secara resmi rencana pengambilalihan pada 28 November 2025. Sentimen pasar terhadap potensi perubahan pengendali tercermin pada pergerakan saham ASLI yang pada penutupan perdagangan Jumat (28/11) melesat 24,68% atau naik 78 poin hingga menyentuh Auto-Rejection Atas (ARA) di level Rp394. Jika transaksi ini terealisasi, aksi korporasi tersebut berpotensi membawa arah strategis baru bagi ASLI, meski saat ini seluruh proses masih berada pada tahap negosiasi dan pemenuhan persyaratan regulasi.

https://emitennews.com/news/divestasi-6952-saham-asli-dalam-proses-nego-mau-ganti-pengendali 

SMRA

Summarecon Agung Tbk

PT. Summarecon Agung Tbk. (SMRA) mengantongi dana segar sekitar Rp536,28 miliar dari divestasi 478.888.110 saham PT. Bukit Permai Properti (BPP) kepada PT. Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) dan PT. Nusantara Bali Realti (NBR). Transaksi ini dilakukan melalui dua entitas anak, yaitu PT Bali Indah Development (BID) dan PT Summarecon Bali Indah (SBI), dan menjadi bagian dari penataan portofolio investasi Summarecon di segmen properti Bali.

Secara rinci, SBI melepas 335.273.217 saham BPP senilai Rp375,45 miliar kepada Bukit Uluwatu Villa, sementara BID menjual 143.564.893 saham BPP senilai Rp160,77 miliar kepada Bukit Uluwatu Villa dan 50.000 saham tambahan senilai Rp53,62 juta kepada Nusantara Bali Realti. Seluruh rangkaian transaksi tersebut telah difinalisasi pada 28 November 2025, dan setelahnya SMRA melalui BID dan SBI tidak lagi memiliki kepemilikan saham di BPP.

Manajemen menegaskan bahwa divestasi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan sebagai emiten publik. Dengan demikian, langkah ini lebih dapat dipandang sebagai rasionalisasi aset dan optimalisasi portofolio, sekaligus memberikan tambahan likuiditas yang dapat dimanfaatkan Summarecon untuk mendukung proyek inti dan prioritas pengembangan lainnya.

https://emitennews.com/news/summarecon-smra-beber-transaksi-rp53628-miliar 

SMMA

Sinarmas Multiartha Tbk.

PT. Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menambah setoran modal kepada anak usahanya, PT. Arthamas Solusindo, sebesar Rp880 miliar melalui skema konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) pada Jumat, 28 November 2025. Transaksi ini tidak mengubah struktur kepemilikan, di mana SMMA tetap menguasai 99,99% saham Arthamas Solusindo, sementara PT Sinarmas Sekuritas memegang sekitar 0,000003%.

Penambahan modal tersebut telah mendapat persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Arthamas Solusindo yang digelar pada hari yang sama. Manajemen menegaskan bahwa aksi korporasi ini tidak memberikan dampak material terhadap operasional, kondisi keuangan, proyeksi bisnis, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha SMMA dalam jangka panjang, sehingga lebih bersifat penataan internal struktur permodalan di level anak usaha.

Sebagai konteks, SMMA merupakan perusahaan jasa keuangan terpadu di bawah Sinar Mas Group yang membawahi ekosistem usaha perbankan, asuransi, pembiayaan, manajemen aset, pasar modal, administrasi saham, keamanan, hingga teknologi informasi. Perusahaan berdiri pada Oktober 1982 dengan nama PT Internas Arta Leasing Company, kemudian menjadi bagian dari Sinar Mas Group dan melantai di bursa (IPO) pada 1995, menjadikannya salah satu pilar utama bisnis keuangan grup.

https://emitennews.com/news/sinar-mas-multiartha-smma-tambah-setoran-modal-anak-usaha-rp880m

UANG

Pakuan Tbk.

PT. Pakuan Tbk. (UANG) membukukan laba bersih Rp66,17 miliar per 30 September 2025, turun 10,77% dari Rp74,16 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar juga terkoreksi dari Rp61,29 menjadi Rp54,69. Secara top line, penjualan justru naik 5,43% menjadi Rp266,98 miliar dari Rp253,22 miliar, namun kenaikan beban pokok penjualan yang cukup tajam ke Rp118,74 miliar (dari Rp90,62 miliar) membuat laba kotor turun menjadi Rp148,24 miliar dari Rp162,59 miliar. Di saat margin kotor tergerus, beban penjualan naik ke Rp16,6 miliar (dari Rp11,52 miliar) dan beban umum & administrasi ikut meningkat menjadi Rp75,29 miliar (dari Rp73,72 miliar), sehingga laba operasi menyusut dari Rp65,19 miliar menjadi Rp53,4 miliar.

Di sisi pendapatan lain-lain, kinerja perseroan tercampur. Pendapatan jasa manajemen turun menjadi Rp7,65 miliar dari Rp12,75 miliar, sementara pendapatan sewa melonjak signifikan ke Rp3,15 miliar dari Rp407 juta, dan pendapatan bunga deposito serta jasa giro naik menjadi Rp3,08 miliar dari Rp2,84 miliar. Beban pajak final justru turun cukup tajam ke Rp2,93 miliar dari Rp12,15 miliar, dan beban keuangan berkurang menjadi Rp1,61 miliar dari Rp2,11 miliar, namun tekanan datang dari bagian rugi entitas asosiasi yang naik menjadi Rp4,59 miliar dari Rp3,45 miliar serta pendapatan lain-lain yang menurun ke Rp59,96 miliar dari Rp74,39 miliar. Kombinasi margin operasi yang menyempit dan pendapatan lain-lain yang melemah membuat laba bersih akhirnya tertekan meski beberapa pos beban keuangan dan pajak membaik.

Secara neraca, profil keuangan UANG tampak lebih kokoh. Ekuitas meningkat signifikan menjadi Rp593,43 miliar dari Rp322,29 miliar di akhir 2024, yang mengindikasikan penguatan basis permodalan (baik dari akumulasi laba, aksi korporasi, atau revaluasi tertentu). Total liabilitas justru turun menjadi Rp1,12 triliun dari Rp1,25 triliun, sehingga struktur pendanaan perseroan menjadi relatif lebih konservatif. Di saat yang sama, total aset naik menjadi Rp1,71 triliun dari Rp1,58 triliun, mencerminkan ekspansi atau penambahan aset produktif. Dengan demikian, meski kinerja laba 9M25 tertekan oleh penyusutan margin dan pendapatan lain-lain, dari sisi balance sheet UANG menunjukkan perbaikan leverage dan kapasitas keuangan yang lebih kuat ke depan.

https://emitennews.com/news/kuartal-iii-2025-laba-emiten-suami-puan-uang-susut-11-persen