Daily News 20 August 2026
-
BBCA
Bank Central Asia Tbk
-
Pasar modal Indonesia belakangan ini memang sedang berada dalam "cuaca" yang cukup ekstrem. Suku bunga yang tinggi dan fluktuasi nilai tukar seringkali membuat harga saham-saham blue chip ikut bergoyang. Namun, di tengah badai likuiditas tersebut, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kembali membuktikan posisinya sebagai jangkar stabilitas bagi portofolio investor. Hari ini, Rabu (19/08) emiten dengan kapitalisasi pasar raksasa ini kembali menepati komitmennya.
Dalam keterbukaan informasinya pada BEI, manajemen secara resmi memutuskan untuk membagikan dividen interim sebesar Rp25,00 per lembar saham untuk tahun buku 2026, dengan total nilai mencapai Rp3,07 triliun. Nominal ini merupakan pembagian keuntungan kepada pemegang saham atas kinerja perseroan selama periode 1 Januari 2026 - 30 Juni 2026 (Semester I-2026).
Jika kita menengok ke belakang, langkah ini adalah lanjutan dari dividen interim perdana yang sudah dibagikan sebelumnya untuk periode laporan Januari hingga Maret 2026 sebesar Rp20,00 per saham. Artinya, hanya dalam waktu dua kali pembagian di tahun ini, BCA telah membagikan total dividen sebesar Rp45,00 per saham.
Ini adalah bukti nyata bahwa strategi membagikan dividen secara periodik, bukan lagi sekadar dividen tahunan, telah menjadi norma baru bagi BBCA untuk memanjakan investornya.
https://emitennews.com/news/tepati-janji-lagi-bbca-tebar-dividen-interim-kedua-rp25-per-saham
-
BYAN
Bayan Resources Tbk
-
PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN) emiten batu bara taipan Low Tuck Kwong langsung ambruk di pra-pembukaan perdagangan Rabu (19/08/2026). Setelah ARA 2 hari beruntun, saham BYAN justru terbanting hingga mendasar ke Auto-Rejection Bawah (ARB) pada pukul 08.58 WIB. Berdasarkan data RTI Business, BYAN turun 2.575 poin atau 14,91% ke Rp14.700 di pra-pembukaan.
Padahal dua hari berturut-turut sebelumnya BYAN ditutup ARA pada Jumat (14/08) +20,00% ke Rp14.400 dan berlanjut ARA kembali Selasa (18/8) +19,97% ke Rp17.275. Pelemahan drastis ini terjadi sehari setelah BYAN secara resmi membantah rumor akuisisi 62,2% saham oleh Jhonlin Grup milik Haji Isam.
https://emitennews.com/news/byan-ara-2-hari-beruntun-jatuh-arb-1491-usai-bantah-rumor-akuisisi
-
CBDK
Bangun Kosambi Sukses Tbk.
-
PT. Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) bakal melakukan pembelian kembali saham alias buyback senilai Rp250 miliar. Tindakan itu dilakukan untuk mengurangi tekanan jual kala pasar mengalami fluktuasi secara signifikan. Selain itu, buyback juga dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor. Hajatan itu, akan dimulai sejak 20 Agustus 2026 hingga 19 November 2026.
Artinya, pelaksanaan buyback dilakukan dalam tempo kurang lebih tiga bulan. Pembelian kembali saham akan dibidani oleh Ciptadana Sekuritas Asia sebagai salah satu anggota bursa (AB). Tindakan itu, didasari oleh sejumlah pertimbangan. Di mana, perseroan berkomitmen untuk menjaga keyakinan terhadap nilai pertumbuhan jangka panjang.
Langkah itu, dilakukan bukan karena adanya penurunan kinerja maupun pelemahan fundamental. Perseroan tetap memiliki kondisi keuangan sehat, kinerja operasional stabil, dan prospek usaha jangka panjang baik.
https://emitennews.com/news/hadapi-gejolak-pasar-cbdk-buyback-rp250-miliar
-
ERAA
Erajaya Swasembada Tbk.
-
Pasar smartphone nasional bergeser ke segmen atas pada awal 2026. Counterpoint Research mencatat segmen di atas US$600 tumbuh 30% secara tahunan dan mencetak kontribusi tertinggi sepanjang sejarah di 8,3% dari total pengiriman, di tengah pengiriman nasional kuartal I 2026 yang terkoreksi 9% seiring krisis pasokan chip memori yang mengerek harga ritel 7% hingga 45%. Segmen di bawah US$150 atau sekitar Rp2,4 juta terkoreksi paling dalam sebesar 19%.
PT. Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA), emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik, gaya hidup, aksesoris, serta food and beverages, membukukan pertumbuhan yang ditopang lini digital, gaya hidup aktif, serta makanan dan minuman sepanjang semester pertama 2026. Penjualan tercatat Rp42,9 triliun, naik 22,4% secara tahunan, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp784 miliar atau tumbuh 38,0%.
Laba melaju lebih cepat dibanding penjualan, dan pergeserannya terjadi di sisi beban operasional, dengan rasio beban terhadap penjualan turun ke 7,8% dari 8,1%. Laba kotor mencapai Rp4,8 triliun, naik 21,0%, dengan margin laba kotor terjaga di 11,2% dan margin bersih menguat ke 1,8% dari 1,6%.
https://emitennews.com/news/pertumbuhan-laba-salip-penjualan-eraa-tekan-rasio-beban-operasional