Daily News 20 November 2025

November 20, 2025 No. 2932

BABY

Multitrend Indo Tbk.

PT. Multitrend Indo Tbk. (BABY), operator jaringan ritel produk bayi dan anak, memperkuat posisinya lewat akuisisi PT. Emway Globalindo dan Emway Singapore Pte. Ltd. (Emway) oleh perusahaan induknya, Blooming Years Pte. Ltd. Emway merupakan distributor dan spesialis mainan ternama yang memegang merek global seperti Mattel (Hot Wheels, Barbie, Fisher Price), Spin Master, Zuru, Moose, Takara Tomy, Just Play, Ling Dong, Blokees, hingga Crayola, serta memiliki brand internal Emco yang sudah diekspor ke lebih dari 50 negara. Langkah ini menegaskan ambisi BABY untuk menjadi platform produk bayi dan anak paling lengkap di Indonesia, meski secara kinerja keuangan BABY masih mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp22,53 miliar di kuartal III-2025.

Integrasi Emway memperkuat ekosistem end-to-end BABY di segmen bayi, anak, mainan dan lifestyle. BABY sudah mengelola brand ritel ikonik seperti Mothercare, Wilio, Adidas Kids, Gingersnaps, dan ELC, serta menjadi distributor berbagai merek internasional (Skiphop, Nuby, Playgro, Bugaboo, Phillips Avent, Beaba, Sudocrem). Di sisi in-house brand, BABY mengembangkan Momami (perawatan bayi) dan Pureats (camilan), yang kini ditopang oleh keahlian Emway di kategori mainan. Kombinasi kekuatan ritel, distribusi, dan brand-building BABY dengan dominasi mainan Emway diharapkan menciptakan platform omnichannel yang sulit ditandingi bagi prinsipal yang ingin mengembangkan pasar di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Dari perspektif pasar, aksi korporasi ini dibaca positif oleh investor: pada Rabu (19/11), saham BABY naik 7,57% ke Rp398 per saham. Secara performa harga, BABY masih turun 7,4% dalam sebulan terakhir, tetapi menguat 6,4% dalam enam bulan dan naik 17% secara YTD, mencerminkan adanya re-rating bertahap seiring narasi ekspansi dan konsolidasi ekosistem bayi?anak?mainan. Ke depan, kunci bagi BABY adalah bagaimana konversi skala dan jaringan yang semakin besar ini menjadi profitabilitas yang berkelanjutan, melalui sinergi cross-selling, efisiensi distribusi, dan monetisasi penuh kanal offline maupun online.

https://emitennews.com/news/langkah-baru-multitrend-indo-baby

JSPT

Jakarta Setiabudi Internasional Tbk.

PT. Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. (JSPT) membukukan pendapatan 9M25 sebesar Rp1,79 triliun (+4% YoY), didorong kenaikan pendapatan segmen perhotelan Rp114,4 miliar (+8% YoY) seiring lonjakan wisatawan mancanegara ke Bali menjadi 5,3 juta (+12% YoY). Meski top line tumbuh, laba bersih justru turun tipis 2% YoY ke Rp231,2 miliar, mencerminkan adanya tekanan margin dan beban pengembangan proyek yang mulai terasa di laporan laba rugi. Perseroan tengah menjalankan pipeline proyek cukup besar di dalam negeri, baik pada aset hospitality maupun residensial. Di sisi hotel, Hyatt Regency Yogyakarta direnovasi bertahap atas 269 kamar hingga 2027 (tahap pertama 77 kamar sudah selesai, tahap kedua 50 kamar ditargetkan rampung Desember 2025).

Untuk pengembangan residensial, JSPT menggarap Puri Botanical (kawasan 135 ha di Jakarta Barat, dengan klaster Lavender, Magnolia, Gardenia), Hyarta EcoVillage di Yogyakarta (120 rumah & 9 ruko, tahap pertama hampir sold-out dan ditargetkan habis 2025), serta Savanna Sumatera (kota mandiri 660 ha di Deli Serdang, dengan akses utama dan klaster Ananta yang sudah menjual ±200 unit rumah, plus destinasi wisata De River seluas 5 ha). Ke depan, JSPT memperkuat positioning sebagai pemain hospitality & lifestyle regional melalui beberapa proyek strategis: kawasan residensial mewah 4,3 ha di depan Andaz Bali (tahap pertama 21 villa, tahap kedua 64 kondominium dengan target pemasaran mulai Q4 2026),

revitalisasi Bali Collection Blok C (±5.000 m² leasable area, selesai akhir 2026) sebagai hub kuliner dan budaya, serta pengembangan lifestyle retail ±2 ha di Puri Botanical dengan ±12.000 m² area sewa yang ditarget beroperasi 2027. Di level regional, perseroan juga menjajaki investasi hotel & branded residences di Bang Tao/Layan Beach, Phuket (275 kamar hotel & 107 unit residences di lahan 10 ha), yang jika terealisasi akan mengangkat profil JSPT sebagai pemilik dan pengembang aset hospitality lintas negara di bawah standar global.

https://emitennews.com/news/jspt-akan-melakukan-investasi-beberapa-proyek-strategis

KDTN

Puri Sentul Permai Tbk.

PT. Puri Sentul Permai Tbk. (KDTN) mencatat pendapatan 9M25 sebesar Rp23,8 miliar (+2,6% YoY) dengan laba periode berjalan Rp635,4 juta. Meskipun angka topline dan bottom line masih relatif kecil, performa saham justru spektakuler: harga sempat melonjak hampir 150% dalam sebulan dan naik hingga 24,48% dalam satu hari sebelum sempat disuspensi BEI pada 13 November 2025 karena kenaikan harga kumulatif yang signifikan. Kenaikan ini didukung sentimen positif atas narasi ekspansi agresif di segmen hotel rest area dan fasilitas lifestyle.

Secara operasional, KDTN kini mengoperasikan enam hotel, lima di antaranya berlokasi di rest area tol, dengan okupansi yang sangat tinggi di beberapa lokasi (Kedaton8 Xpress KM 19 Jakarta?Cikampek dilaporkan bisa mencapai hingga 300% per hari dan Kedaton8 Hotel Sentul hingga 200% terhadap jumlah kamar). Perseroan terus memperkuat diferensiasi melalui penambahan lounge eksklusif, tipe kamar suite, peremajaan kamar di Kedaton8, serta pengembangan fasilitas olahraga seperti 4 court Fu Paddle di Kedaton8 Sentul. Di rest area, jaringan hotel terus bertambah, antara lain Swiss-BelExpress di Heritage KM 260B Pejagan/Pemalang (okupansi 100%) dan Xpress Hotel di KM 379A Batang?Semarang yang mulai beroperasi penuh sejak Oktober 2025.

Ke depan, KDTN menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih 2026 sekitar 30?40% YoY, didukung ekspansi fasilitas olahraga dan hospitality tambahan. Capex 2026 direncanakan naik menjadi Rp25?30 miliar (dari Rp20 miliar), dengan sekitar Rp10 miliar dialokasikan untuk 4 lapangan padel dan business lounge 3 lantai di Kedaton8 Sentul, didanai kas internal dan fasilitas kredit bank. Manajemen juga mencatat kenaikan jumlah pemegang saham dari 1.918 menjadi 2.084 investor per akhir Oktober 2025, mencerminkan meningkatnya minat pasar, sambil tetap menyatakan komitmen untuk membagikan dividen bila kondisi keuangan memungkinkan dan menjaga keseimbangan antara ekspansi agresif dan imbal hasil bagi pemegang saham.

https://emitennews.com/news/target-pendapatan-dan-laba-2026-naik-30-persen-capex-kdtn-rp30m

NCKL

Trimegah Bangun Persada Tbk.

PT. Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), melalui anak usaha PT. Gane Tambang Sentosa, menandatangani perjanjian penjualan bijih nikel saprolit dengan dua entitas afiliasi, PT. Karunia Permai Sentosa dan PT. Halmahera Jaya Feronikel. Perjanjian efektif sejak 13 November 2025, dengan penetapan harga jual mengikuti regulasi yang berlaku, sehingga secara formal tetap berada dalam koridor kewajaran transaksi dan tidak memerlukan persetujuan RUPS terlebih dahulu.

Kesepakatan ini memperkuat rantai pasok internal NCKL di kawasan industri Halmahera, memastikan suplai bahan baku yang lebih terjamin dan terintegrasi untuk pemrosesan lanjutan di entitas hilir grup. Manajemen menegaskan bahwa transaksi ini tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan, melainkan dirancang untuk mendukung model bisnis hilirisasi nikel yang terintegrasi dari tambang hingga fasilitas pengolahan.

Di pasar, saham NCKL pada Rabu (19/11) terkoreksi 1,3% ke Rp980 per saham, dan tercatat turun sekitar 19,5% dalam sebulan terakhir dari Rp1.225 (13 Oktober 2025), mencerminkan tekanan sentimen pasar terhadap sektor nikel meski secara fundamental perseroan terus mengunci basis monetisasi jangka panjang melalui kontrak pasok internal.

https://emitennews.com/news/nckl-teken-perjanjian-penjualan-bijih-nikel