Daily News 08 December 2025

December 08, 2025 No. 2944

BWPT

Eagle High Plantations Tbk.

PT. Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) berencana menawarkan surat utang senilai total Rp500 miliar, yang terdiri dari Obligasi Berkelanjutan I Tahap III sebesar Rp210 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II senilai Rp290 miliar. Dari porsi obligasi, Rp171,91 miliar dijamin dengan kesanggupan penuh dan Rp38,08 miliar dengan kesanggupan terbaik. Obligasi Rp171,91 miliar tersebut dibagi menjadi dua seri: Seri A sebesar Rp46,91 miliar dengan kupon tetap 9,75% per tahun dan tenor 370 hari, serta Seri B senilai Rp125 miliar dengan kupon tetap 11% dan jangka waktu 3 tahun. Bunga dibayar setiap 3 bulan dengan pembayaran pertama pada 6 April 2026, sementara pokok obligasi dilunasi penuh pada saat jatuh tempo, yaitu 16 Januari 2027 untuk Seri A dan 6 Januari 2029 untuk Seri B.

Untuk Sukuk Mudharabah, Rp267,07 miliar dijamin dengan kesanggupan penuh dan juga ditawarkan dalam dua seri. Seri A senilai Rp165,70 miliar memiliki nisbah 15,975% dari pendapatan yang dibagihasilkan dengan indikasi imbal hasil ekuivalen 9,75% per tahun dan tenor 370 hari. Seri B sebesar Rp101,37 miliar menawarkan nisbah 18,023% dengan indikasi imbal hasil ekuivalen 11% per tahun dan jangka waktu 3 tahun, sementara sisa Rp22,92 miliar dijamin dengan kesanggupan terbaik. Pendapatan bagi hasil dibayarkan setiap 3 bulan, dengan pembayaran pertama pada 6 April 2026 dan pelunasan pokok sekaligus pembayaran bagi hasil terakhir pada 16 Januari 2027 (Seri A) dan 6 Januari 2029 (Seri B).

Secara penggunaan dana, hasil obligasi sekitar Rp180 miliar akan disalurkan sebagai setoran modal ke entitas anak untuk melunasi pokok utang bank, sedangkan sisanya dipakai sebagai modal kerja, termasuk pembelian tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit, pemeliharaan tanaman menghasilkan (pupuk, energi, bahan bakar), serta biaya overhead. Dana sukuk sekitar Rp100 miliar juga akan digunakan untuk pembayaran pokok utang, dengan sisa diarahkan ke kebutuhan modal kerja serupa. Jadwal pelaksanaan meliputi masa penawaran umum pada 22?30 Desember 2025, penjatahan 2 Januari 2026, pengembalian uang pemesanan dan distribusi elektronik pada 6 Januari 2026, serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 7 Januari 2026.

https://emitennews.com/news/bwpt-tawarkan-surat-utang-rp500-m-segini-bunganya

MORA

Mora Telematika Indonesia Tbk.

PT. Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) membukukan laba bersih Rp231,55 miliar per 30 September 2025, naik 14,23% dari Rp202,69 miliar pada periode yang sama tahun lalu sehingga laba per saham dasar ikut menguat menjadi Rp10 dari Rp9. Kenaikan laba ini tercapai meski pendapatan turun 6,35% menjadi Rp2,80 triliun dari Rp2,99 triliun, dengan laba kotor yang ikut terkoreksi menjadi Rp1,61 triliun dari Rp1,77 triliun. Penopang utama berasal dari efisiensi beban langsung dan beban usaha yang sedikit turun menjadi Rp906,06 miliar, serta pengelolaan beban bunga dan keuangan yang membaik.

Di bawah laba operasi, beberapa pos non-operasional memberi dukungan signifikan. Penghasilan bunga naik menjadi Rp35 miliar dari Rp26,99 miliar, laba selisih kurs melonjak menjadi Rp31,44 miliar dari Rp3,57 miliar, dan beban bunga serta keuangan turun tajam menjadi Rp388,84 miliar dari Rp444,82 miliar. Beban lain-lain juga menyusut menjadi Rp318,13 miliar dari Rp409,19 miliar, sementara beban pajak berkurang cukup besar menjadi Rp146,82 miliar dari Rp239,36 miliar. Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong laba periode berjalan meningkat menjadi Rp245,72 miliar dari Rp212,74 miliar, meski laba usaha secara inti turun ke Rp711,7 miliar dari Rp861,41 miliar.

Dari sisi neraca, ekuitas Moratelindo naik menjadi Rp7,64 triliun dari Rp7,39 triliun di akhir 2024, mencerminkan akumulasi laba yang memperkuat basis permodalan perseroan. Total liabilitas turun cukup signifikan menjadi Rp6,82 triliun dari Rp7,26 triliun, menandakan adanya pelunasan atau penurunan utang yang sekaligus menurunkan beban keuangan. Jumlah aset tercatat sedikit tergerus menjadi Rp14,46 triliun dari Rp14,65 triliun, namun profil keuangan secara keseluruhan tampak lebih sehat dengan leverage yang menurun dan profitabilitas bersih yang membaik di tengah penyesuaian top line.

https://emitennews.com/news/surplus-14-persen-mora-kuartal-iii-raup-laba-rp23155-miliar

NRCA

Nusa Raya Cipta Tbk.

PT. Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA), anak usaha konstruksi milik PT. Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), membukukan perolehan kontrak baru senilai Rp2,89 triliun sepanjang Januari?Oktober 2025. Angka tersebut belum termasuk carry over kontrak tahun 2024 sebesar Rp3,34 triliun, sehingga total kontrak dalam pengerjaan (order book) NRCA saat ini menggembung menjadi sekitar Rp6,23 triliun. Komposisi proyek yang diraih cukup terdiversifikasi, mencakup Holiday Inn Express Bandung, Parking Building & Campus Plaza E Gunadarma Depok, New Plant AHM Deltamas Cikarang, OMC Building IKK Pindodeli Karawang, IGD Elisabeth Hospital Semarang, serta proyek terbaru Nava Park Business Suite bernilai Rp258,5 miliar.

Manajemen menegaskan bahwa NRCA masih aktif mengejar proyek baru baik dari pelanggan lama maupun klien baru, guna menjaga kesinambungan pipeline dan utilisasi kapasitas konstruksi. Diversifikasi jenis proyek―mulai dari komersial, industri, hingga fasilitas kesehatan dan pendidikan―membantu meredam risiko siklus di satu segmen tertentu dan memberi ruang bagi perusahaan untuk mengoptimalkan bauran margin. Order book yang tebal juga memberikan visibilitas pendapatan beberapa tahun ke depan, terutama jika eksekusi proyek dapat dijaga tepat waktu dan sesuai anggaran.

Dari sisi kinerja keuangan, hingga September 2025 NRCA mencatat pendapatan Rp2,66 triliun, tumbuh 4,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,53 triliun. Kenaikan pendapatan ini diiringi lonjakan laba tahun berjalan yang naik progresif menjadi Rp156 miliar dari Rp85 miliar pada periode yang sama 2024, mengindikasikan adanya perbaikan margin, efisiensi biaya, dan kualitas proyek yang lebih baik. Kombinasi pertumbuhan laba yang kuat dan order book yang solid memperkuat posisi NRCA sebagai salah satu kontraktor gedung dan infrastruktur swasta yang cukup diperhitungkan di pasar, sekaligus menjadi penopang penting kinerja konsolidasi SSIA di segmen konstruksi.

https://emitennews.com/news/nrca-geber-kontrak-baru-kini-totalnya-rp623-triliun

TECH

Indosterling Technomedia Tbk.

PT. Indosterling Technomedia Tbk. (TECH) merencanakan rights issue sebanyak 502.520.000 saham baru bernominal Rp50 per saham. Rencana penambahan modal dengan HMETD ini akan dimintakan persetujuannya kepada pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada 18 Desember 2025, dan dapat dieksekusi dalam jangka waktu hingga 12 bulan setelah pernyataan pendaftaran efektif dari OJK. Seluruh dana bersih hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan difokuskan untuk memulihkan kinerja keuangan dan operasional perseroan, termasuk pengembangan lini usaha baru, pemenuhan kewajiban kepada pihak ketiga, rekrutmen karyawan, serta penyediaan sarana dan prasarana, khususnya untuk menunjang lokasi kegiatan usaha baru.

Jika masih terdapat sisa dana, perseroan akan mengarahkannya untuk mendukung kebutuhan lain yang relevan dengan pertumbuhan usaha ke depan. Aksi korporasi ini juga diposisikan sebagai respons strategis atas tekanan yang timbul dari dinamika tata kelola, termasuk pengunduran diri bersama Direktur Utama Galuh Darmajati Abdullah, Direktur Yoas, dan Komisaris Nunu Nugraha, serta vonis pidana 10 tahun terhadap Komisaris Utama Sean William Henley yang berdampak langsung pada operasional dan keuangan perseroan.

Dengan struktur permodalan yang diperkuat, TECH menargetkan perbaikan profil keuangan dan operasional, pemenuhan kewajiban keuangan, serta peningkatan kapasitas organisasi. Apabila pemegang saham tidak melaksanakan haknya, sisa saham baru akan diambil alih pembeli siaga (standby buyer), yang berpotensi mendilusi kepemilikan dan mengubah struktur pengendalian perseroan.

https://emitennews.com/news/izin-investor-tech-right-issue-50252-juta-lembar