Daily News 04 November 2025
-
LSIP
PP London Sumatra Indonesia Tbk.
-
PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) membukukan laba bersih 9M25 sebesar Rp1,25 triliun (+55% YoY), mendorong EPS naik ke Rp183 dari Rp118. Penjualan tumbuh 35% menjadi Rp3,96 triliun, ditopang kenaikan harga jual rata-rata dan volume penjualan produk sawit; laba kotor ikut melonjak 37% ke Rp1,47 triliun. Secara operasional, laba usaha meningkat 62% menjadi Rp1,29 triliun dan EBITDA mencapai Rp1,61 triliun (+58% YoY).
Produksi TBS inti turun 2% menjadi 798 ribu ton, namun total produksi CPO naik 4% menjadi 202 ribu ton―menandakan efisiensi pabrik dan penyerapan tandan pihak ketiga/optimalisasi rendemen membantu mengimbangi pelemahan TBS internal. Dari neraca, aset naik ke Rp14,78 triliun (dari Rp13,84 triliun), ekuitas menguat ke Rp13,36 triliun (dari Rp12,55 triliun), sementara liabilitas meningkat moderat ke Rp1,42 triliun (dari Rp1,28 triliun).
Profil keuangan tetap solid dengan leverage rendah, memberi ruang untuk menjaga capex kebun/pabrik serta strategi penjualan yang oportunistik di tengah dinamika harga CPO.
https://emitennews.com/news/harga-jual-melonjak-lonsum-lsip-raup-laba-rp125-triliun
-
OKAS
Ancora Indonesia Resources Tbk
-
PT. Ancora Indonesia Resources Tbk. (OKAS) mencatat rugi bersih 9M25 sebesar USD5,01 juta (berbalik dari laba), dengan rugi per saham USD0,0021 (dari laba USD0,0023). Penjualan bersih turun 13,67% YoY menjadi USD121,58 juta; laba kotor ikut menyusut ke USD34,57 juta seiring tekanan pada topline. Di saat yang sama, G&A naik ke USD9,12 juta meski beban penjualan turun ke USD5,07 juta, sehingga menekan profitabilitas.
Di level operasional, beban operasi lain-lain melonjak ke USD12,7 juta (dari USD4,48 juta), membuat laba usaha anjlok ke USD7,67 juta (dari USD25,3 juta). Di bawah operasi, biaya keuangan turun ke USD1,61 juta dan beban pajak lebih rendah, namun tidak cukup mengimbangi pelemahan operasional sehingga laba sebelum pajak turun ke USD6,14 juta dan pada akhirnya perseroan membukukan rugi bersih.
Dari neraca, total aset turun ke USD154 juta dan ekuitas melemah ke USD58,37 juta, sementara liabilitas menurun ke USD95,63 juta. Defisit akumulasi melebar ke USD18,48 juta. Kombinasi penurunan penjualan, kompresi laba kotor, serta lonjakan beban operasi lain-lain menjadi faktor utama pembalik kinerja―area ini menjadi kunci perbaikan untuk memulihkan margin ke depan.
https://emitennews.com/news/anjlok-192-persen-ancora-okas-kuartal-iii-2025-boncos-usd501-juta
-
SAPX
Satria Antaran Prima Tbk.
-
PT. Satria Andalan Prima Tbk. (SAPX) membukukan pendapatan 9M25 sebesar Rp402,30 miliar (turun dari Rp523,35 miliar YoY). Beban langsung turun ke Rp331,12 miliar, tetapi laba bruto ikut menurun menjadi Rp71,17 miliar (dari Rp105,69 miliar) seiring tekanan pada top line. Di level operasional, beban usaha berhasil ditekan signifikan ke Rp64,01 miliar (dari Rp101,93 miliar) sehingga laba usaha justru naik menjadi Rp7,16 miliar (dari Rp3,76 miliar).
Namun, beban lain-lain neto meningkat ke Rp5,99 miliar, membuat laba sebelum pajak sedikit turun ke Rp1,17 miliar dan laba bersih terkoreksi tipis ke Rp911,34 juta; EPS dasar turun ke Rp1,09 (dari Rp1,16). Dari neraca, total aset naik ke Rp418,05 miliar dan liabilitas meningkat ke Rp216,77 miliar per 30 September 2025.
Kombinasi penurunan pendapatan, perbaikan efisiensi opex, namun kenaikan beban lain-lain menghasilkan kinerja bersih yang relatif datar, menandakan fokus efisiensi operasional perlu dibarengi pengendalian pos non-operasional agar profitabilitas berkelanjutan.
https://emitennews.com/news/satria-andalan-prima-sapx-catat-pendapatan-rp402m-ada-penurunan
-
WIIM
Wismilak Inti Makmur Tbk.
-
PT. Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) membukukan laba bersih 9M25 sebesar Rp284,96 miliar (+37% YoY), mengangkat EPS dasar ke Rp137,28 dari Rp99,97. Penjualan bersih tumbuh 34% menjadi Rp4,60 triliun; beban pokok penjualan naik ke Rp3,60 triliun sehingga laba kotor mencapai Rp1,00 triliun (+29,9% YoY). Secara margin, gross margin sedikit tertekan (~21,7% vs ~22,6% setahun lalu) seiring eskalasi biaya input.
Di level operasional, beban penjualan naik ke Rp413,85 miliar dan G&A ke Rp207,05 miliar, mendorong total opex menjadi Rp620,9 miliar (dari Rp514,85 miliar). Meski demikian, laba usaha masih melesat ke Rp380,57 miliar (dari Rp259,27 miliar), menandakan pertumbuhan volume/penjualan mampu mengimbangi kenaikan biaya.
Di bawah operasi, pendapatan bunga meningkat ke Rp8,44 miliar dan rugi selisih kurs mengecil menjadi Rp0,75 miliar, sementara beban bunga naik ke Rp19,12 miliar. Alhasil, laba periode berjalan tercatat Rp285,07 miliar (vs Rp207,54 miliar). Dari neraca, aset naik ke Rp3,35 triliun, ekuitas ke Rp2,06 triliun, dan liabilitas menjadi Rp1,29 triliun―memberi ruang ekspansi namun tetap perlu memantau dinamika biaya dan pendanaan.
https://emitennews.com/news/kuartal-iii-2025-laba-dan-pendapatan-wiim-kompak-melesat